Bunga Titipan

    Pagi ini seperti biasa aku dan Naomi lari pagi di area komplek tempat kami tinggal. Saat kami berlari melewati jalan raya yang ada di depan komplek, kami terdiam seribu bahasa karena mendengar suara hantaman keras yang bersumber tepat di belakang kami. Dengan perlahan kami menoleh, ternyata sebuah mobil menabrak truk pengangkut pasir yang berada di pinggir jalan. Mobil tersebut rusak parah hampir tak berbentuk dan saat itu aku melihat seorang anak perempuan turun dari mobil dengan setangkai mawar putih di tangannya. Dengan cepat Naomi menghubungi kantor polisi dan rumah sakit. Karena rasa iba aku mendekatinya dengan tujuan ingin menenangkannya. Saat aku sampai di samping anak itu, tiba-tiba ia memberikanku setangkai mawar putih yang ternoda darah yang ia genggam tadi sambil menagis. Saat aku ingin menanyakan kenapa ia seperti itu, dari belakang Naomi memenggilku karena polisi sudah datang. Saat aku menoleh kembali anak itu menghilang. Ketika kebingungan menghampiriku suara Naomi kembali tedengar. Dengan cepat aku berlari menuju tempat Naomi. Setelah sekitar 20 menit polisi meminta keterangan dari kami, seorang perawat mendatangi kami dan berkata bahwa semua korban meninggal dunia yaitu sepasang suami istri dan seorang anak perempuan berumur sekitar 5 tahun. Saat mendengar kata-kata itu sontak aku melihat tanganku, awalnya kukira aku barhayal tetapi hal ini memang nyata, setangkai mawar putih bernoda darah itu masih di genggamanku.
 
<kira-kira kaya’ gini> 
 
 Image
 
 
Setelah polisi memperbolehkan kami pergi, aku dan Naomi melanjutkan lari kami yang terhenti dan kembali ke rumah. Setelah sampai di rumah, aku meletakkan bunga tadi ke dalam vas dan aku menaruhnya di meja kamarku. Saat itu aku memikirkan kejadian yang sedang menimpaku, semua pikiranku bercampur jadi satu. Setelah hari itu hal-hal aneh mulai terjadi padaku. Awalnya aku melihat bunga mawar itu berada di depan pintu rumahku padahal aku tidak pernah menyentuhnya, lalu aku sering mendengar suara tangisan anak perempuan dari kamarku yang sebelumnya tidak pernah ada, dan sekarang aku menemukan sebuah kertas yang bertuliskan “San Ichimoto” yaitu nama pemakaman elit yang berada di sebelah area komplek rumahku. Walaupun mengerikan aku mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal itu.
Waktu demi waktu berlalu. Hari ini sebenarnya aku ingin lari pagi seperti biasa dengan Naomi, tapi karna Naomi sedang sakit aku mengurungkan niatku dan pergi membeli buah yang akan ku bawa saat menjenguk Naomi. Setelah membeli buah aku pulang untuk berganti baju. Aku lega tidak ada kejadian aneh yang terjadi padaku, tapi saat aku pulang dari menjenguk Naomi aku terkejut ketika mendengar suara tangisan anak perempuan yang biasa aku dengar, tapi kali ini terdengar sangat menyikasa. Saat aku masuk ke rumah dan menuju kamarku, aku melihat anak itu duduk di jendela kamarku. Ternyata anak itu adalah anak yang memberikanku setangkai mawar dulu. Tak sempat aku bertanya, anak itu sudah ada tepat di depanku. Kakiku melemas, pikiranku tak karuan, rasa takut datang menghampiriku. Saat aku mematung anak itu berkata : ‘ tolong aku, kumohon tolong aku, aku sudah berjanji akan memberikan setangkai mawar putih padanya setiap hari, tapi saat ini aku tidak bisa memberikannya, tolonglah aku untuk memberikan setangkai mawar putih itu pada kakakku, Shinda Mirai, kumohon tolonglah aku ‘. Setelah berkata seperti itu ia meghilang. Aku mematung selama 10 menit. Saat sadar aku langsung mengambil mawar putih itu dan  berlari ke pemakaman “San Ichimoto”. Satelah aku sampai disana, aku menemui seorang penjaga makam untuk menanyakan apakah ada orang yang bernama Shinda Mirai yang di makamkan disini. Ternyata memang benar Shinda Mirai dimakamkan disini. Lalu aku meminta penjaga makam itu mengantarku kemakamnya. Di perjalanan penjaga makam sempat bercerita bahwa keluarga Shinda Mirai sering kesini dan adiknya selalu memberikan setangkai mawar putih. Setelah sampai di makamnya, penjaga makam pergi meninggalkanku. Sejenak aku memandangi makamnya yang penuh dengan mawar putih. Saat aku meletakkan mawarku kemakamnya baru aku sadari bahwa mawarku tidak layu. Aku memang sempat takut, tapi saat aku melihat anak perempuan yang sering mendatngiku melihatku sambil tersenyum aku merasa semua bebanku lenyap dan berganti dengan kegembiraan. Setelah selesai aku pulang ke rumah dan menjalani kehidupanku seperti biasa.
 
 
 THE END ^_^

Tentang arin mei lestari

anak aneh tak bercita-cita
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s